Arsip:

SDG 9

Atasi Darurat Sampah Organik Mahasiswa UGM Ciptakan WormiBox Berbasis IoT

Yogyakarta – Ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38 tahun 2025 resmi diselenggarakan di Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar, Sulawesi Selatan. PIMNAS merupakan kompetisi inovasi mahasiswa terbesar di Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Ditjen Diktiristek, Direktorat Kemdiktisaintek, bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin sebagai tuan rumah penyelenggara. Kompetisi nasional inovasi mahasiswa terbesar di Indonesia ini diikuti oleh 420 tim dari 170 perguruan tinggi seluruh Indonesia, mencerminkan tingginya antusiasme generasi muda dalam menjawab tantangan bangsa.

Dalam ajang bergengsi tersebut, tim PKM-Kewirausahaan Universitas Gadjah Mada berhasil meraih Juara 1 (Emas) Kategori Presentasi dan Juara 3 (Perunggu) Kategori Poster melalui karya berjudul: “WormiBox: Inovasi Cerdas Budidaya Cacing Tanah Berbasis IoT sebagai Dekomposer dalam Upaya Integrasi Zero Waste Movement dan Penanganan Limbah Organik.”

Di balik pencapaian ini, Maureen Arsa Sanda Cantika (Sistem Informasi Geografis 2022) menjadi salah satu mahasiswa Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi UGM yang berperan penting dalam pengembangan teknologi WormiBox. Bersama tim PKM-K UGM, Maureen berkontribusi dalam perancangan sistem dan inovasi produk yang memungkinkan masyarakat mengelola sampah organik secara mandiri, praktis, dan berkelanjutan.

Menjawab persoalan tersebut, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada menghadirkan WormiBox, alat budidaya cacing tanah berbasis IoT yang mampu mengubah limbah organik menjadi pupuk bernilai ekonomi. Inovasi ini lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) 2025 sebagai wujud kontribusi mahasiswa dalam menyediakan solusi konkret untuk masalah lingkungan.

Ketua tim, Azkal Anas Ilmawan (Teknik Nuklir 2022) menjelaskan bahwa WormiBox dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri. “Sampah rumah tangga jumlahnya terus meningkat, sementara fasilitas pengelolaan terpusat semakin terbatas. WormiBox memberi peluang agar masyarakat dapat mengelola sampah sendiri sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat,” ujarnya.

WormiBox bekerja dengan memantau kondisi lingkungan secara otomatis mulai dari suhu hingga kelembapan sehingga cacing dapat bekerja pada kondisi yang paling optimal. Proses ini meningkatkan efektivitas penguraian sampah organik dan menghasilkan pupuk berkualitas yang dapat digunakan kembali oleh masyarakat.

Produk WormiBox dipasarkan dengan harga Rp699.999 dan menyasar segmen ibu rumah tangga, peternak cacing, hingga komunitas pemerhati lingkungan. “Kami ingin WormiBox tidak hanya menjadi produk, tetapi juga gerakan yang mengajak masyarakat lebih peduli terhadap sampah yang mereka hasilkan,” tambah Azkal.

Selain Maureen dan Azkal, tim ini beranggotakan Fikriansyah Ridwan Pratama (Teknik Fisika 2023), Vidhyazputri Belva Aqila (Akuntansi 2023), dan Maulana Iqbal Pambudi (Ilmu dan Industri Peternakan 2023). Dengan pendampingan dosen dari Fakultas Teknik, kolaborasi lintas disiplin ini menggabungkan keahlian dalam teknologi, pengembangan produk, analitik lingkungan, hingga strategi bisnis.

Ke depan, tim berencana menggandeng pemerintah daerah, komunitas pengelola sampah, serta organisasi lingkungan untuk memperluas penerapan WormiBox. Diharapkan, teknologi ini tidak hanya digunakan dalam skala rumah tangga, tetapi juga mampu mendukung kebijakan desentralisasi pengelolaan sampah di berbagai daerah.

Melalui WormiBox, mahasiswa UGM menunjukkan bahwa inovasi sederhana namun berbasis teknologi dapat menjadi langkah penting dalam menjawab isu lingkungan yang semakin mendesak. Harapannya, karya ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengembangkan solusi kreatif demi keberlanjutan bumi.

Sarjana Terapan SIG Sekolah Vokasi UGM Terapkan Teknologi Pemetaan Modern dalam Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025 di Desa Sumberarum

Magelang, 2025 — Program Studi Sarjana Terapan Sistem Informasi Geografis (SIG) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025 yang berfokus pada pengembangan basis data spasial Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang. Melalui program ini, tim SIG UGM berupaya menyediakan informasi geospasial terkini sebagai landasan perencanaan pembangunan desa secara objektif, terukur, dan berbasis data.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara sistematis melalui sejumlah tahapan berbasis pendekatan partisipatif dan teknologi penginderaan jauh. Tahap awal dimulai dengan koordinasi bersama perangkat desa dan identifikasi kebutuhan wilayah, yang bertujuan untuk menyelaraskan prioritas perencanaan pembangunan dan menentukan objek spasial yang perlu dipetakan sesuai kebutuhan masyarakat desa. Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa hasil pemetaan benar-benar relevan dan dapat dimanfaatkan dalam proses perencanaan pembangunan lokal.

Gambar 1. Kegiatan FGD (Focus Goup Discussion) dengan perangkat Desa Sumberarum Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang (15/07/2025) (Sumber: STR. SIG)

Proses pemetaan dilakukan dengan pemotretan udara menggunakan wahana UAV untuk menghasilkan citra resolusi tinggi sebagai sumber utama data spasial. Pemotretan dilaksanakan melalui beberapa misi terbang di seluruh wilayah desa dengan cakupan lebih dari 400 hektar, yang kemudian menghasilkan ribuan citra udara untuk diproses menjadi orthomosaic, model permukaan, dan data tiga dimensi sebagai representasi kondisi fisik wilayah secara utuh. Pemanfaatan teknologi ini memungkinkan proses pemetaan berlangsung lebih cepat dan presisi dibandingkan metode survei konvensional.

Citra udara yang dihasilkan kemudian melalui tahap pengolahan dan interpretasi menggunakan perangkat lunak fotogrametri dan Sistem Informasi Geografis. Tim melakukan digitasi detail fitur–fitur penting desa, meliputi permukiman, fasilitas publik, jaringan jalan, irigasi, penggunaan lahan, dan wilayah pengembangan wisata. Pada tahap ini dilaksanakan pula Focus Group Discussion (FGD) dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat untuk memvalidasi klasifikasi objek dan memastikan setiap elemen spasial yang dipetakan sesuai dengan kondisi faktual dan kebutuhan kebijakan pembangunan wilayah.

Tahap berikutnya adalah survei lapangan dan verifikasi data untuk memastikan ketelitian peta dengan membandingkan hasil interpretasi citra udara dan situasi aktual di lapangan. Survei dilakukan dengan pengambilan titik koordinat, dokumentasi visual, observasi langsung, serta dialog dengan warga setempat. Pelibatan masyarakat dan aparatur wilayah pada tahap ini bertujuan memperkuat literasi spasial lokal serta meningkatkan rasa memiliki terhadap dokumen hasil pemetaan yang akan dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan desa.

Gambar 2. Survei lapangan dan verifikasi data di Desa Sumberarum Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang (15/07/2025) (Sumber: STR. SIG)

Seluruh rangkaian proses tersebut menghasilkan produk pemetaan desa skala besar yang terdiri dari Peta Citra 1:5.000, Peta Penggunaan Lahan 1:5.000, Peta Fasilitas Umum 1:5.000, serta Album Peta Tematik yang berisi potensi dan karakteristik wilayah pada masing-masing dusun. Dokumen spasial ini disiapkan dalam format cetak dan digital untuk memudahkan pemanfaatannya sebagai basis perencanaan pembangunan, penyusunan Musrenbangdes, analisis tata ruang, hingga pengembangan sektor wisata air panas yang merupakan potensi unggulan desa.

Gambar 3. Peta Citra dan Peta Penggunaan Lahan Desa Sumberarum Tahun 2025 Skala 1: 5000 (Sumber: STR. SIG)

Program pengabdian ini berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur) melalui penyediaan data untuk pengembangan infrastruktur wilayah berbasis teknologi, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui penyusunan perencanaan ruang desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kegiatan ini menegaskan komitmen Sekolah Vokasi UGM dalam menerapkan keahlian terapan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat serta memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat. Hasil kegiatan telah diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Desa Sumberarum pada 13 November 2025 untuk dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan desa ke depan.