Yogyakarta, 10 Februari 2025 – Antarktika, benua yang penuh misteri dengan iklim ekstrem, telah menjadi fokus penelitian ilmiah dari berbagai negara selama beberapa dekade. Meski jauh dari garis khatulistiwa, Indonesia juga memiliki kepentingan yang besar dalam eksplorasi Antarktika. Hal ini disampaikan oleh Gerry Utama, seorang ilmuwan Indonesia, dalam kuliah umum yang diadakan oleh Departemen Teknologi Kebumian, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (DTK SV UGM) pada 10 Februari 2025 bertempat di TILC SV UGM
Gerry Utama merupakan alumni Fakultas Geografi UGM angkatan 2011 yang saat ini berkarir di Institute of Earth Sciences Saint Petersburg State University dan Arctic Antarctic Research Institute di Rusia. Dalam paparannya, menjelaskan pentingnya Antarktika bagi Indonesia, tidak hanya dalam konteks geopolitik, tetapi juga dari segi ilmiah dan teknologi. “Antarktika menyimpan banyak informasi tentang sejarah Bumi yang masih sangat rapi, seperti memori atau harddisk besar yang belum sepenuhnya terungkap,” ujarnya. Dalam kuliah umum bertajuk “Penjelajahan di Antarktika: Mencetak Sejarah dan Membangun Riset Global untuk Indonesia” menyoroti pentingnya Antarktika sebagai pusat riset ilmiah, terutama dalam konteks perubahan iklim global. “Antarktika bukan hanya kawasan yang unik dengan iklim ekstrem, tetapi juga menyimpan data penting terkait sejarah bumi yang masih sangat rapi, menjadikannya pusat penelitian yang tak ternilai,” ujarnya.


Dalam paparannya, menyoroti beberapa faktor yang menjadi alasan kuat mengapa Indonesia harus segera mengambil peran lebih aktif di Antarktika. Salah satunya adalah jarak geografis Indonesia yang relatif dekat dengan Antarktika. Jakarta, misalnya, hanya berjarak sekitar 5600 km dari Stasiun Mirny milik Rusia di Antarktika. Selain itu, isu perubahan iklim dan potensi tenggelamnya pulau-pulau kecil di Indonesia akibat kenaikan permukaan laut juga menjadi perhatian penting yang berkaitan dengan penelitian di Antarktika. “Antarktika adalah tempat kunci untuk memahami dampak perubahan iklim global, termasuk di wilayah kita,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pencairan es di Antarktika Timur yang memiliki volume es yang dapat berdampak besar pada kenaikan permukaan laut dunia.
Salah satu penelitian penting yang dilakukannya di Antarktika adalah pemetaan ekosistem lichen dan geomorfologi di wilayah seperti Pulau King George. Selain itu, monitoring pencairan es di lembar es Antarktika Barat juga menjadi perhatian utama karena perubahan kecil pada volume es ini dapat mempengaruhi sirkulasi laut global dan suhu lautan.
Menurutnya, keterlibatan Indonesia dalam riset Antarktika membuka peluang untuk pengembangan teknologi tinggi, seperti pembuatan kapal pemecah es dan modul stasiun riset Antarktika. “Indonesia bisa menjadi hub logistik bagi negara-negara ASEAN dalam mendukung transportasi udara dan laut ke Antarktika,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mumpuni untuk melakukan riset di Antarktika, terbukti dari partisipasi Indonesia dalam ekspedisi bersama dengan negara lain. Sejauh ini, Indonesia telah mengirimkan ilmuwan dalam tiga misi ekspedisi ke Antarktika. Tercatat sudah tiga kali Indonesia mengirimkan ilmuwan-ilmuwan terbaiknya untuk berpartisipasi dalam penelitian Antarktika. Di antaranya adalah:
- Australian Antarctic Division dengan Aurora Australis Icebreaker, yang mengikutsertakan Dr. Agus Supangat, Dr. M. Lukman, Dr. Agus Guntoro, dan Titi Soedjiarti, M.S.
- Japan Antarctic Research Expedition (JARE) 58 pada 2016 dengan Japanese Icebreaker Shirase, yang mengikutsertakan Nugroho Imam Setiawan, Ph.D.
- Russian Antarctic Expedition 69 pada 2024 dengan Russian Icebreaker Akademik Tyrosnikov, yang diikuti oleh Gerry Utama.
Saat ini, Indonesia belum meratifikasi Traktat Antarktika yang merupakan perjanjian internasional yang mengatur penggunaan damai dan perlindungan lingkungan di Antarktika. “Indonesia perlu segera meratifikasi perjanjian ini agar dapat berpartisipasi lebih aktif dalam riset ilmiah dan pengelolaan Antarktika,” jelasnya. Traktat ini, yang pertama kali ditandatangani pada tahun 1959 dan mulai berlaku pada tahun 1961, telah diratifikasi oleh 57 negara, namun Indonesia belum menjadi salah satunya. Ia juga mengusulkan pembentukan Badan Eksplorasi Antarktika Indonesia (BEAI) sebagai langkah penting untuk memperkuat peran Indonesia dalam riset di Antarktika. “Pembentukan lembaga ini akan mendukung koordinasi riset, eksplorasi, dan pengembangan teknologi, serta memberikan kontribusi nyata Indonesia dalam riset global,” pungkasnya.
Dalam paparan penutupnya juga menggarisbawahi potensi besar dalam pengembangan teknologi di Antarktika. “Indonesia memiliki kapasitas SDM yang sangat mumpuni dalam melakukan riset di Antarktika, terbukti dari tiga ekspedisi gabungan yang telah dilakukan. Ke depan, Indonesia berpotensi membangun stasiun riset sendiri dan mengembangkan kapal pemecah es, yang dapat diuji coba di lingkungan ekstrem Antarktika.” Lebih lanjut, Gerry menyebutkan bahwa Indonesia dapat menjadi pusat transportasi logistik bagi negara-negara ASEAN untuk kegiatan riset di Antarktika. “Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi hub ASEAN dalam transportasi logistik ke Antarktika, baik melalui udara maupun laut. Selain itu, riset di Antarktika membuka peluang pengembangan teknologi tinggi yang dapat digunakan di berbagai sektor,” jelasnya. Sebagai bagian dari persiapan menuju keterlibatan yang lebih mendalam di Antarktika, Indonesia telah menyusun roadmap pembentukan Badan Eksplorasi Antarktika Indonesia (BEAI). Rencana ini mencakup beberapa langkah strategis, termasuk:
- 2025-2026: Pembentukan BEAI, desain inventarisasi model kelembagaan, dan pemetaan kebutuhan riset Antarktika.
- 2026-2027: Kerjasama antarlembaga riset Antarktika (join research dan join expedition).
- 2027-2028: Desain penempatan modul stasiun riset Antarktika milik Indonesia, Kerjasama antarnegara terhadap isu dan kolaborasi riset Antartika, dan memulai 2nd Indonesia Antarctic Expedition (IAE).
- 2028-2029: Pengembangan modul stasiun riset Antarktika dan memulai 3rd Indonesia Antarctic Expedition (IAE).
Selain itu, pembentukan stasiun riset Antarktika pertama di ASEAN dan pengembangan modul riset adalah langkah penting dalam memperkuat keterlibatan Indonesia. Pengalaman yang telah diperoleh dari ekspedisi sebelumnya menjadi landasan yang kuat untuk membangun kemandirian riset di bidang Antarktika. Partisipasi aktif Indonesia dalam riset di Antarktika menunjukkan komitmen negara ini untuk terus mendukung kolaborasi internasional dan kontribusi terhadap penelitian perubahan iklim global. “Kita telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki sumber daya yang cukup kuat untuk berkontribusi dalam riset ilmiah global. Saatnya kita mengambil langkah lebih lanjut dengan membangun kemandirian riset di Antarktika dan memperkuat posisi kita di kancah ilmiah dunia,” tutupnya.
Dengan pengalaman yang sudah diperoleh dari ekspedisi sebelumnya, Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam menjaga kelestarian bumi melalui riset di Antarktika, sekaligus mengembangkan teknologi dan kapasitas ilmiah yang mendukung.


Melalui kuliah umum ini, Gerry Utama menekankan bahwa keterlibatan Indonesia di Antarktika bukan hanya soal prestise, tetapi juga soal kepentingan ilmiah dan geopolitik yang strategis. Ratifikasi Traktat Antarktika dan pembentukan badan khusus yang menangani riset Antarktika akan menjadi langkah krusial bagi Indonesia untuk memainkan peran aktif dalam konservasi dan riset global di Antarktika. Dengan potensi menjadi hub transportasi logistik ASEAN menuju Antarktika, serta kemampuan dalam pengembangan teknologi tingkat tinggi, Indonesia dapat mencetak sejarah dalam riset Antarktika dan memberikan kontribusi penting bagi upaya global menghadapi perubahan iklim.


