Yogyakarta – Tim peneliti Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diketuai oleh Hidayat Panuntun, berhasil mengidentifikasi pola penurunan permukaan tanah (subsidence) di kawasan Kaldera Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat, menggunakan teknologi Satelit SAR. Hasil penelitian ini dipresentasikan dalam Seminar Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 2026 yang diselenggarakan di UGM, Yogyakarta.
Penelitian tersebut memanfaatkan teknologi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) dengan mengombinasikan data satelit ALOS-1/PALSAR dari dua arah lintasan, yaitu ascending dan descending. Melalui pendekatan dekomposisi 2.5 dimensi (2.5D), tim peneliti dapat memisahkan komponen pergerakan horizontal dan vertikal, sehingga perubahan ketinggian permukaan tanah dapat diestimasi secara lebih representatif.
Hasil analisis data periode 2006–2011 menunjukkan bahwa deformasi vertikal di Kaldera Tambora didominasi oleh penurunan permukaan tanah dengan nilai maksimum sekitar 5,13 sentimeter, sedangkan kenaikan permukaan maksimum mencapai 2,07 sentimeter. Zona penurunan utama terkonsentrasi pada bagian tengah hingga tenggara kaldera. Temuan ini juga menunjukkan kesesuaian secara kualitatif dengan penelitian terdahulu yang mengidentifikasi kecenderungan penurunan permukaan di Gunung Tambora. Meskipun demikian, tim peneliti menekankan bahwa teridentifikasinya penurunan permukaan belum dapat secara langsung digunakan untuk memastikan mekanisme aktivitas vulkanik di bawah permukaan. Deformasi dapat berkaitan dengan berbagai proses, seperti perubahan tekanan pada sistem magma, dinamika hidrotermal, maupun penyesuaian struktur tubuh gunung api. Oleh karena itu, diperlukan kajian lanjutan melalui integrasi pengamatan geodetik, geologi, dan geofisika untuk memahami sumber deformasi secara lebih komprehensif.
Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan teknologi pemantauan deformasi gunung api berbasis satelit, khususnya dalam meningkatkan ketelitian interpretasi pergerakan permukaan tanah. Informasi tersebut berpotensi mendukung pengembangan sistem pemantauan aktivitas vulkanik dan kajian mitigasi bencana di Indonesia.
Kegiatan penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan inovasi teknologi geospasial serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penyediaan informasi ilmiah yang relevan untuk pengurangan risiko bencana.